Ngulur Naga, Prosesi Sakral Erau yang Menghubungkan Kerajaan, Rakyat, dan Alam

Onlineku.Info, Tenggarong – Prosesi Ngulur Naga menjadi puncak perhatian dalam rangkaian upacara adat Erau di Kutai Kartanegara. Sepasang naga laki dan naga bini diturunkan dari Museum Mulawarman untuk kemudian dilarung di Sungai Mahakam menuju Kutai Lama, pusat awal berdirinya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Minggu (28/9/25).

Pangeran Mangkubumi Patih menjelaskan, prosesi Ngulur Naga bukan sekadar pertunjukan adat, melainkan sarat makna filosofis.

“Sepasang naga itu melambangkan keseimbangan laki-laki dan perempuan, juga menjaga keharmonisan antara kerajaan, rakyat, dan alam,” ujarnya.

Sebelum dilarung, Sultan Aji Muhammad Arifin melakukan penyawaian atau restu kepada kedua naga. Setelah itu, perjalanan dimulai dengan rute khusus di Sungai Mahakam.

Setelah sepasang naga sudah dinaikkan ke kapal, kapal akan bergerak ke arah mudik, ke buntut benua untuk berputar sebanyak tiga kali, kapal akan menyinggahi beberapa titik untuk para Dewa dan Belian, untuk “memang” berkomunikasi dengan alam sebelah diiringi dengan tabuhan gamelan Belian.

Setelah itu kapal lanjut ke Loa gagak dan Sungai Kerbau Samarinda seberang, kapal akan singgah sejenak di Samarinda seberang untuk “Naga bekenyawa” dengan Bugis Wajo

“Kapal Naga ini mengitari Buntut Benua di Tanah Habang Mangkurawang sebanyak tiga kali, lalu mudik ke hulu, kembali lagi ke hilir sampai ke Loa Gagak, berputar di Sungai Kerbau, dan singgah di Samarinda Seberang,” jelas Pangeran Mangkubumi Patih.

Di Samarinda Seberang, prosesi berhenti sejenak untuk menyapa masyarakat Bugis dan Wajo yang secara historis mendapat tanah dari Kesultanan Kutai. Setelah itu, naga melanjutkan perjalanan hingga ke Kutai Lama.

 

Setelah Kapal sampai di muara sungai Kutai Lama, tepatnya dermaga Naga Kutai Lama, Kepala naga dan ekornya disiapkan untuk dilepas nantinya, dan Pangeran yang diutus Sultan untuk mengiringi Naga tersebut, akan menaiki kapal untuk melakukan penyawaian kepada Kepala dan Ekor Naga tersebut.

Kapal akan berputar sebanyak tiga kali, setelah itu kepala dan ekor Naga tersebut dilepas yang selanjutnya akan, dibawa kembali ke Tenggarong untuk digunakan di Erau berikutnya, sementara tubuh naga dilarungkan ke sungai untuk para masyarakat diperebutkan sisik warna warninya.

Rombongan kapal naga kemudian naik ke dermaga untuk berziarah ke kuburan Raja Kutai Kartanegara ke-6 Aji Raja Mahkota.

Ngulur Naga dipandang sebagai jembatan sakral yang menghubungkan tiga unsur penting: kerajaan, rakyat, dan alam semesta. Tradisi ini mengandung pesan agar manusia selalu menjaga keseimbangan dalam hidup.

“Selama berabad-abad, Ngulur Naga menjadi pengingat bahwa kerajaan berdiri bukan hanya karena kekuasaan, melainkan karena adanya restu rakyat dan keselarasan dengan alam,” tegas Pangeran Mangkubumi Patih.

Sebagai bagian dari Erau, prosesi Ngulur Naga hingga kini tetap dilestarikan dan menjadi daya tarik utama masyarakat serta wisatawan. Selain nilai spiritualnya, ritual ini juga merefleksikan identitas dan warisan luhur Kesultanan Kutai Kartanegara.

“Ngulur Naga bukan hanya tradisi, melainkan warisan peradaban yang harus dijaga agar generasi mendatang tetap memahami makna harmoni kehidupan,” pungkas Pangeran Mangkubumi Patih.

(Aji R)

BACA JUGA