Onlineku.Info, Kutai Kartanegara – Tradisi adat kembali menjadi bagian penting dalam persiapan Festival Batu Bumbun di Desa Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Sehari menjelang pelaksanaan festival, Selasa (25/8/2026) siang, rangkaian ritual adat digelar dengan menyusuri sejumlah titik di sepanjang aliran Sungai Mahakam. Prosesi tersebut dikenal masyarakat Kutai sebagai ngalak air, yang berarti mengambil air.
Ritual dilakukan oleh keroan dengsanak cucu Aji Raden Botoh Atmodjo Supno Sulaiman, yang merupakan keturunan Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sultan ke-17 Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Ketua Lembaga Adat Muara Muntai Ilir, Aji Hamdani, menjelaskan bahwa ngalak air bukan sekadar mengambil air dari Sungai Mahakam. Di dalamnya terdapat rangkaian adat yang diwariskan dari generasi ke generasi dan berkaitan erat dengan sejarah terbentuknya Muara Muntai.
“Kalau tradisi ini memang dari dulu-dulu, dari zamannya nenek moyang. Karena awal pembukaan Sri Muntai itu ada ritualnya,” ujar Aji Hamdani.
Prosesi diawali dengan perjalanan menuju Batu Bumbun. Dari lokasi tersebut, rombongan bergerak menuju Lembu Tuhah untuk melaksanakan pelabuhan sebagai bagian dari rangkaian adat.
Perjalanan kemudian diteruskan menuju Batu Ampar yang berada di kawasan perbatasan Muara Aloh. Di titik ini, selain pelabuhan, dilakukan pula pemasangan ancak.
Rombongan selanjutnya menyusuri aliran sungai menuju Batangan Kala, kemudian Batangan Muntai. Dari sana perjalanan berlanjut ke Simpang Dua Pasir hingga Teluk Luk di kawasan Kayu Batu.
Rangkaian tersebut kemudian mencapai titik terakhir di kawasan Simpang Dua, tepatnya di lokasi pusaran air. Di tempat inilah prosesi utama ngalak air dilaksanakan.
“Setelah semua rangkaian dilakukan, kemudian mengambil air dalam bahasa Kutai ngalak air, di pusaran air,” katanya.
Sebelum air diambil, dua buah punjung disiapkan sebagai bagian dari ritual. Masing-masing punjung memiliki perlambangan laki-laki dan perempuan.
Setelah pelabuhan dilakukan, prosesi dilanjutkan dengan bersawai dan menaburkan beras kuning. Barulah air dari pusaran Sungai Mahakam diambil dan dimasukkan ke dalam kendi yang dibungkus kain kuning.
Air tersebut nantinya menjadi bagian dalam prosesi tepung tawar Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura pada rangkaian Festival Batu Bumbun.
Selain pengambilan air, setiap titik ritual juga memiliki perlengkapan adat masing-masing. Sesajen yang disiapkan di antaranya pulut, pisang saba, telur rebus, kapur sirih dan perlengkapan perokokan.
Pada prosesi punjung, perlengkapan ritual ditempatkan dalam wadah yang terbuat dari anyaman daun kelapa muda berwarna kuning. Sementara ancak menjadi salah satu bentuk pemberian dalam rangkaian ritual.
Menurut Aji Hamdani, ancak memiliki makna sebagai bentuk penghormatan sekaligus permohonan izin kepada penghuni alam gaib atau alam sebelah sebelum kegiatan dilanjutkan.
“Ancak itu adalah pemberian kita kepada penghuni alam gaib. Ancak sendiri terdiri ayam yang dibakar kemudian ada jajak yang lainnya. Jadi tinggal di situ ditanam,” katanya.
Selain perlengkapan ritual, bendera kuning juga dipasang di sejumlah titik yang telah dilakukan pelabuhan. Bendera tersebut menjadi penanda bahwa lokasi bersangkutan telah menjalani prosesi adat.
“Ini sebagai ritual, penandaan bahwa sudah dirituali atau dilabuh-labuhi. Tanda-tandanya, tanda titiknya saja,” ujar Aji.
Menurut Aji Hamdani, keberadaan ritual tersebut tidak dapat dipisahkan dari sejarah Sri Muntai yang kemudian dikenal sebagai Muara Muntai.
Ia menjelaskan, rangkaian adat tersebut pada masa lalu berkaitan dengan berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari pembukaan Sri Muntai, pemberian tahun hingga pelas kampung.
Karena rangkaian ritual Sri Muntai belum dilaksanakan, Pemerintah Desa Muara Muntai Ilir kemudian mengatur pelaksanaan ritual dalam rangkaian Festival Batu Bumbun.
“Kalau kita rangkum segalanya itu sebenarnya yang berada di Sri Muntai dulu. Sri Muntai atau yang namanya Muara Muntai. Karena Muara Muntai belum mengadakan ritual itu, Pemdes Muara Muntai Ilir mengantisipasinya dengan mengatur jadwal untuk Batu Bumbun,” jelasnya.
Bagi masyarakat Muara Muntai, ritual tersebut bukan hanya menjadi bagian dari persiapan sebuah festival. Lebih dari itu, ngalak air menjadi pengingat atas hubungan antara tradisi, sejarah kampung dan warisan leluhur yang masih dijaga hingga kini.
Aji Hamdani berharap keberadaan tradisi tersebut dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga nilai-nilai adat yang menjadi bagian dari sejarah Muara Muntai tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
(Jie)

