Menjamu Benua, Tradisi Adat Kutai untuk Mengundang dan Menjamu Penjaga Alam dalam Rangkaian Erau

Prosesi Menjamu Kepala Benua (Jie/Onlineku.Info)

Onlineku.Info, Tenggarong — Prosesi Menjamu Benua menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian Erau Adat Kutai Kartanegara. Ritual ini merupakan bentuk penghormatan sekaligus mengundang dan menjamu seluruh unsur yang dipercaya berada di lingkungan kesultanan, baik yang terlihat maupun tidak terlihat. Kamis (17/9/26).

 

Wakil Kepala Adat Kedang Ipil, Sartin, menjelaskan bahwa Menjamu Benua tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian ritual adat yang telah dilaksanakan secara turun-temurun.

 

Sebelum Menjamu Benua, rangkaian Erau diawali dengan prosesi Titi Bende yang dilaksanakan sehari sebelumnya. Prosesi tersebut menjadi bentuk pemberitahuan kepada seluruh unsur yang dipercaya berada di wilayah tersebut bahwa rangkaian Erau akan dilaksanakan.

 

“Titi Bende itu tujuannya untuk memberi kabar kepada semua orang yang ada di kota, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Setelah kita beri kabar, hari ini kita jamu, kita undang dan kita panggil melalui Menjamu Benua,” ujar Sartin.

 

Menurutnya, setelah pemberitahuan melalui Titi Bende, mereka yang telah diundang kemudian dijamu melalui prosesi Menjamu Benua. Ritual tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus permohonan agar turut menjaga ketertiban dan keamanan selama rangkaian Erau berlangsung.

 

Dalam bahasa ritual, pemberian jamuan tersebut dikenal dengan istilah ambak atau beri budi. Pemberian itu dimaknai sebagai tanda penghormatan kepada mereka yang dipercaya memiliki peran dalam menjaga keselamatan selama pelaksanaan adat.

 

“Diberilah semacam jamuan-jamuan. Kalau dalam bahasa ritualnya itu diberi ambak, diberi budi. Artinya diberi jamuan sebagai tanda bahwa mereka ditugasi untuk menjaga kita,” jelasnya.

 

Sartin menuturkan, Menjamu Benua juga menjadi persiapan menuju tahapan berikutnya, yakni Tepung Tawar atau Bepelas Sultan. Dalam ritual tersebut, pihak adat menyampaikan maksud dan tujuan pelaksanaan Erau sekaligus meminta dukungan agar seluruh rangkaian berjalan dengan aman dan lancar.

 

Setelah Menjamu Benua, rangkaian kemudian dilanjutkan dengan prosesi Merangin. Para belian yang ditugaskan oleh Kesultanan menjalankan ritual tersebut sebagai bagian dari perjalanan spiritual dalam rangkaian Erau.

 

“Perjalanan kita sebagai belian dalam rangka Merangin itu sebenarnya perjalanan di alam dimensi lain. Raga kita masih kelihatan, tetapi roh kita berjalan,” ungkap Sartin.

 

Ia menjelaskan, dalam perjalanan ritual tersebut terdapat sejumlah simbol yang menjadi bagian dari tata cara adat, termasuk kura-kura sebagai simbol perjalanan di air dan burung sebagai simbol perjalanan di udara.

 

Setelah Merangin, rangkaian dilanjutkan dengan Ngatur Dahar. Prosesi ini dimaknai sebagai pemberian makanan atau sajian kepada roh leluhur dan para penjaga keraton yang dipercaya berada dalam dimensi lain.

 

Tahapan berikutnya adalah **Mendirikan Ayu**, yang memiliki makna tersendiri dalam rangkaian Erau. Menurut Sartin, Ayu menjadi simbol roh seorang pemimpin atau Sultan yang kemudian dijaga selama prosesi berlangsung.

 

“Ayu ini sebagai simbol roh seorang pemimpin atau seorang Sultan. Makanya roh itulah yang dijaga setiap malam oleh penjaga Ayu,” katanya.

 

Penjagaan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya melindungi Sultan selama menjalani rangkaian ritual. Terlebih setelah prosesi Beluluh, Sultan berada dalam tahapan penyucian sebelum kembali menjalani rangkaian adat berikutnya.

 

Sartin mengatakan, seluruh tahapan tersebut merupakan warisan budaya Kesultanan Kutai yang terus dijaga hingga saat ini.

 

“Pada intinya ini menunjukkan diri dan merupakan warisan budaya dari Sultan Kutai. Kami berharap ini dapat terus berlangsung sampai kapan pun dan warisan ini terus kita jaga,” ujarnya.

 

Ia berharap Sultan diberikan kekuatan lahir dan batin dalam menjalani seluruh rangkaian Erau yang berlangsung selama beberapa hari.

 

“Semoga Sultan diberikan kekuatan lahiriah dan batiniah serta beliau dijaga supaya dapat menjalani prosesi Erau yang sangat berat,” pungkasnya.

 

(Jie)

BACA JUGA