Malam Para Legend, Kembalinya Rita Widyasari dan Satu Kalimat Bernama “Siapa Takut”

foto: Rusdiansyah Aras dan Mantan Bupati Kukar Rita Widyasari foto bersama (ist/*)

CATATAN : RUSDIANSYAH ARAS

Onlineku.Info, Samarinda – Aroma kopi malam itu seperti berkelindan dengan mesin waktu. Di Claro Hotel yang bagi ingatan kolektif kami masyarakat Samarinda lebih lekat sebagai eks Hotel Atlet di kawasan GOR Kadrie Oening Sempaja ratusan ingatan mendadak tumpah. Tajuk acaranya ringkas namun penuh daya pikat: Wartawan Legend Bedapatan. Sabtu (13/6/26).

 

Sahabat saya, Syafrin TH Noor, sempat berbisik jenaka di tengah riuhnya suasana. “Rus, acara kita malam ini unik. Ada tiga bahasa jadi satu: Indonesia, Inggris (Legend), dan Banjar (Bedapatan).” Kami tertawa. Kalimat pendek itu justru merangkum esensi malam itu: sebuah pertemuan lintas batas, lintas generasi, dan penuh kehangatan yang cair.

 

Malam itu menjadi begitu semarak. Sejumlah figur publik papan atas Benua Etam tampak hadir membaur tanpa sekat protokoler yang kaku. Ada Wali Kota Samarinda Dr. H. Andi Harun yang hadir bersama Wakil Wali Kota Saefuddin Zuhri. Hadir pula mantan Wali Kota Balikpapan dua periode yang juga mantan Pemimpin Redaksi SKH Kaltim Post, Rizal Effendi. Seperti biasa, Mas Rizal dengan joke-joke segarnya yang khas tetap sukses mengocok perut dan membuat seisi ruangan tak berhentinya tertawa.

 

Saya sendiri memilih duduk di antara para senior yang telah menjadi guru sekaligus kompas saya di dunia jurnalisme. Di dekat saya, ada Bang Dillah (Sadillah), redaktur olahraga saya dulu. Mata saya agak berkaca-kaca sekaligus bangga melihatnya malam itu mengenakan kaos SEA Games Thailand 2025 buah tangan yang sengaja saya bawa untuk beliau tempo hari. Di sisi lain, tampak pula Bang Syarifuddin Pernyata dan Syafrin TH Noor. Duduk di antara mereka selalu membawa saya kembali ke memori ruang redaksi yang bising oleh suara mesin ketik dan tenggat waktu.

 

Magnet Kembalinya Sang “Dayang”

 

Namun, harus diakui, magnet utama yang menyedot perhatian malam itu adalah kehadiran mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari. Setelah hampir sembilan tahun berjarak dari hiruk-pikuk langsung Bumi Mulawarman, malam itu ia kembali menapakkan kakinya di Benua Etam.

 

Saya berkesempatan menyambut langsung kedatangan mantan bupati perempuan pertama di Kalimantan Timur ini. Kami kemudian duduk berdampingan, mengobrol panjang lebar. Bukan soal politik berat, melainkan nostalgia hal-hal kecil yang masih melekat kuat di ingatan kami berdua. Sisi humanis Rita sama sekali tidak pudar; senyum dan keramahannya masih sama seperti yang saya kenal dulu.

 

Tentu saja, sebagai orang media, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengorek apa langkah selanjutnya setelah ia kembali menghirup udara segar kebebasan.

 

“Saya belum memiliki agenda politik saat ini, Rus. Ingin fokus berada di tengah-tengah masyarakat dulu dan melakukan hal-hal yang bermanfaat,” ujarnya dengan nada tenang.

 

Namun dinamika berubah ketika saya memancingnya dengan pertanyaan spekulatif: bagaimana jika di masa mendatang masyarakat kembali memberikan kepercayaan dan mendaulatnya untuk kembali memimpin?

 

Rita menatap saya, tersenyum tipis, lalu meluncurlah jawaban yang langsung memantik adrenalin jurnalistik saya:

 

“Siapa takut.”

 

Dua kata yang singkat, padat, namun bertenaga. Pernyataan itu seolah menjadi sinyal bahwa insting petarung seorang Rita Widyasari belum sepenuhnya padam. Di tengah antusiasme warga yang menyambut kepulangannya, kalimat tersebut tentu membuka ruang tafsir yang beragam tentang masa depan.

 

Di Bawah Bayang-Bayang Spanduk Strategis

 

Menariknya lagi, panggung reuni para wartawan gaek ini digelar di bawah bayang-bayang sebuah pesan visual yang cukup mencolok. Mata saya dan mungkin mata sebagian besar undangan yang hadir langsung tertuju pada tulisan di spanduk acara.

 

Di sana tertera bahwa perhelatan hangat ini mendapat dukungan dari Rudy Mas’ud, Gubernur Kalimantan Timur periode 2025–2030.

 

Kehadiran Rita Widyasari di ruang publik, dipadukan dengan dukungan sang gubernur dalam acara bernuansa media ini, menghadirkan berbagai pembacaan menarik. Apakah ini sekadar ruang silaturahmi dan nostalgia, atau ada dinamika lain yang perlahan tumbuh di bawah permukaan politik Kalimantan Timur?

 

Sebagai wartawan yang telah mengikuti perjalanan daerah ini selama puluhan tahun, saya memilih menikmati setiap prosesnya. Malam Wartawan Legend Bedapatan berhasil menuntaskan dua hal sekaligus: melepas rindu para kuli tinta lintas generasi dan menghadirkan banyak bahan renungan tentang arah perjalanan Benua Etam ke depan.

 

Satu yang pasti, malam itu bukan hanya tentang reuni. Ia adalah pertemuan antara kenangan, persahabatan, dan harapan yang masih terus hidup.

BACA JUGA