Kedang Ipil, Abdi Dalam Kesultanan yang Warisi Tradisi Belian dan Bahasa Dewa

Onlineku.Info, Kutai Kartanegara – Tradisi belian dari Kedang Ipil bukan sekadar ritual adat, tetapi juga simbol eratnya hubungan masyarakat dengan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Belian bukan hanya seni pertunjukan, melainkan warisan leluhur yang sarat nilai spiritual, serta jembatan komunikasi dengan alam gaib.

Murad, Kepala adat dari Kecamatan Kota Bangun Darat yang juga tergabung dalam Lembaga Adat Kota Adat Lawa Sumbing Layang, menjelaskan bahwa masyarakat Kedang Ipil memiliki kedudukan khusus sebagai Abdi Dalam Kesultanan.

“Makanya, setiap pelaksanaan belian, khususnya belian namang, kami masih menjunjung tinggi perjanjian lama dengan pihak kesultanan. Itu sebabnya tradisi ini tidak bisa dipisahkan dari Kedang Ipil,” ungkap Murad, saat diwawancarai di serapo Belian. Jumat (19/9/2025).

Selain sebagai bagian dari istana, lembaga adat juga menjadi benteng utama pelestarian belian. Hingga kini, tradisi ini sudah dijalankan lintas generasi, bahkan mencapai generasi kelima.

“Mungkin sekarang sudah generasi kelima. Generasi ketiga masih ada, tapi orangnya sudah tua. Jadi memang tradisi ini tetap berjalan turun-temurun,” kata Murad.

Meski begitu, pewarisan belian tidak otomatis diturunkan dari orang tua ke anak. Hanya mereka yang memiliki bakat, kegigihan, dan keinginan mendalam yang bisa meneruskan peran sebagai pebelian atau penamang.

“Tidak semua keturunan bisa, karena ini soal talenta. Ada yang cepat paham meski hanya sekali mendengar, berarti memang sudah garisnya di situ,” tambah Murad.

Sementara itu, Wakil Kepala Adat, Satin, menekankan filosofi penting dalam penggunaan bahasa belian atau bahasa dewa. Bahasa ini dipercaya sebagai medium komunikasi dengan makhluk halus.

“Kalau pakai bahasa kita sehari-hari, terdengar kasar bagi mereka. Supaya lebih halus, kita pakai bahasa dewa. Itu bentuk penghormatan kami kepada alam gaib,” jelas Satin.

Penelitian akademis bahkan mencatat, bahasa langit sempat punah di belahan dunia lain, terakhir ditemukan di Meksiko pada 2016. Namun, di Kedang Ipil, bahasa ini masih hidup dan digunakan dalam ritual belian hingga kini.

“Kalau menurut dosen yang meneliti, bahasa itu disebut bahasa langit. Tapi kami di sini menyebutnya bahasa dewa, karena dipakai untuk berhubungan dengan dimensi lain,” lanjut Satin.

Bagi masyarakat Kedang Ipil, alam semesta diyakini tidak hanya dihuni manusia, tetapi juga makhluk dari dimensi lain. Karena itu, setiap prosesi belian dijalankan dengan penuh kehati-hatian, diyakini menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia gaib.

Dengan peran ganda sebagai Abdi Dalam dan penjaga bahasa dewa, masyarakat Kedang Ipil menempatkan belian sebagai warisan agung: tradisi, spiritualitas, dan identitas yang menghubungkan adat, kesultanan, generasi penerus, dan kosmos.

(Aji R)

BACA JUGA