Aksi Aliansi Unikarta Menggugat Memanas, Massa Cari Bupati ke Dalam Kantor

Onlineku.Info, Tenggarong – Aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Unikarta Menggugat di Kantor Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Kamis (2/4), berlangsung memanas. Massa aksi sempat melakukan pembakaran ban serta berupaya masuk ke dalam kantor untuk mencari keberadaan Bupati Kukar.

 

Situasi memuncak ketika sejumlah mahasiswa mencoba menuju ruang kerja bupati guna memastikan keberadaan kepala daerah yang tidak menemui massa aksi. Upaya tersebut dihalangi petugas pengamanan yang berjaga, sehingga sempat terjadi aksi dorong-mendorong antara mahasiswa dan aparat.

 

Selain itu, massa aksi juga melakukan pembakaran ban di depan area kantor bupati sebagai bentuk protes atas ketidakhadiran bupati dan lambannya respons terhadap tuntutan yang disampaikan.

 

Koordinator Lapangan Aliansi Unikarta Menggugat dari BEM Unikarta, Ibnu Sayyaf Sabillilaq, menyampaikan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan mahasiswa terhadap pemerintah daerah.

 

“Kami cukup kecewa karena berkali-kali turun aksi tidak pernah menemui Bapak Bupati,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, salah satu tuntutan utama mahasiswa adalah perbaikan infrastruktur jalan, khususnya di wilayah hulu, hilir, dan desa-desa tertinggal yang masih memiliki kondisi jalan rusak.

 

“Yang kami tuntut adalah perbaikan infrastruktur jalanan, terutama yang ada di wilayah hulu dan hilir, termasuk desa-desa yang masih tertinggal dan jalanannya masih jelek untuk segera diperbaiki,” katanya.

 

Menurutnya, kondisi jalan berlubang telah menyebabkan banyak kecelakaan lalu lintas, terutama di kawasan hulu Kukar.

 

“Banyak sekali kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena jalan-jalan berlubang di daerah hulu,” tambahnya.

 

Selain persoalan infrastruktur, mahasiswa juga menuntut pemerintah agar lebih serius dalam merawat fasilitas daerah yang telah dibangun.

 

“Kami menuntut kepada seluruh jajaran pemerintahan untuk selalu merawat fasilitas daerah, tidak semata-mata hanya dibangun, tetapi ada penyegaran dan cara mengelolanya,” tegas Ibnu.

 

Tak hanya itu, mahasiswa juga menyoroti ketimpangan pembangunan pendidikan antara wilayah kota dan desa yang dinilai masih cukup jauh.

 

“Masih ada ketimpangan antara pendidikan di kota dan pendidikan di desa yang tidak layak,” ujarnya.

 

Mahasiswa menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut dan tidak menutup kemungkinan melakukan aksi lanjutan dalam waktu dekat.

 

Menurut saya judul ini sangat kuat karena langsung menonjolkan suasana aksi yang memanas dan fokus pencarian bupati di dalam kantor.

 

(Jie)

BACA JUGA