Riva Dilyanti: Lapas Perempuan Tenggarong Berkapasitas 135 Orang Kini Dihuni 357 WBP

foto: Kepala Lapas Perempuan Tenggarong Riva Dilyanti, (Jie/Onlinekuinfo)

Onlineku.Info, Tenggarong – Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong, Riva Dilyanti, mengungkapkan kondisi overkapasitas yang terjadi di lapas yang dipimpinnya telah mencapai tingkat yang memprihatinkan. Dari kapasitas ideal hanya 135 orang, saat ini jumlah penghuni telah mencapai 357 warga binaan pemasyarakatan (WBP).

 

Hal tersebut disampaikan Riva saat mendampingi kunjungan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, yang datang untuk bersilaturahmi dengan warga binaan sekaligus meninjau langsung kondisi hunian dan pembangunan gedung lapas yang belum selesai.

 

Menurut Riva, sebelumnya pihaknya telah melakukan audiensi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur guna menyampaikan kondisi lapas yang sudah mengalami kelebihan kapasitas cukup tinggi.

 

“Kami menyampaikan kepada Pak Gubernur terkait kondisi Lapas Perempuan Tenggarong yang memang sudah sangat overkapasitas. Selain penghuni yang terus bertambah, masih banyak warga binaan perempuan dari berbagai daerah di Kalimantan Timur yang hingga saat ini masih dititipkan di lapas dewasa laki-laki maupun rumah tahanan lainnya,” ujarnya. Jumat (3/7/26).

 

Ia menjelaskan, kondisi penghuni lapas bersifat dinamis karena setiap hari terdapat warga binaan yang bebas dan ada pula tahanan baru yang masuk. Bahkan, sejumlah tahanan perempuan dari berbagai kejaksaan di Kalimantan Timur masih menunggu proses administrasi untuk dapat dipindahkan ke Lapas Perempuan Tenggarong.

 

Namun, keterbatasan ruang membuat pihak lapas belum dapat menerima seluruh warga binaan perempuan yang saat ini masih berada di berbagai daerah.

 

“Warga binaan perempuan dari Bontang, Nunukan, Balikpapan, Samarinda hingga Kutai Barat sebagian masih dititipkan di lapas setempat karena kondisi di sini sudah sangat penuh,” katanya.

 

Menurut Riva, jika dikalkulasikan secara keseluruhan, jumlah warga binaan perempuan di Kalimantan Timur hampir mencapai 1.000 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 500 hingga 600 orang masih berada di luar Lapas Perempuan Tenggarong.

 

Kondisi paling memprihatinkan terjadi pada ruang hunian warga binaan. Dalam satu kamar yang seharusnya dihuni jauh lebih sedikit orang, saat ini terdapat 41 hingga 43 warga binaan yang menempati ruangan yang sama.

 

“Pak Gubernur tadi meninjau langsung kamar hunian untuk melihat sendiri kondisi yang ada. Dari sisi kemanusiaan tentu kondisi ini kurang layak, namun kami tetap berupaya menempatkan warga binaan dengan mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan semaksimal mungkin,” jelasnya.

 

Riva mengatakan, pihak lapas tetap melakukan pengaturan penempatan penghuni berdasarkan kondisi fisik warga binaan dan tingkat keamanan guna meminimalkan potensi gangguan selama masa pembinaan.

 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihaknya berharap pembangunan gedung baru yang sempat dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dapat segera dilanjutkan setelah sempat terhenti akibat efisiensi anggaran.

 

“Kebutuhan anggaran untuk melanjutkan pembangunan sekitar Rp20 miliar. Jika memungkinkan kami berharap bisa diselesaikan tahun ini, namun apabila belum memungkinkan mudah-mudahan dapat direalisasikan pada tahun depan,” ujarnya.

 

Apabila pembangunan gedung baru tersebut selesai, kapasitas Lapas Perempuan Tenggarong diperkirakan meningkat hingga sekitar 700 warga binaan serta dilengkapi fasilitas pembinaan dan ruang kegiatan yang lebih memadai.

 

Dengan tambahan kapasitas tersebut, diharapkan seluruh warga binaan perempuan di Kalimantan Timur dapat dipusatkan di Tenggarong sehingga proses pembinaan dapat berjalan lebih optimal dan manusiawi.

 

(Jie)

BACA JUGA