Polsek Loa Kulu Bangun Ekosistem Jagung Terpadu di Lahan Eks Tambang, Petani Kini Punya Pasar Pasti

Onlineku.Info, Kutai Kartanegara – Upaya menciptakan ketahanan pangan berkelanjutan di Kecamatan Loa Kulu semakin menunjukkan hasil konkret. Polsek Loa Kulu, di bawah komando AKP Hari Supranoto, berhasil menginisiasi sebuah model pertanian terpadu yang mengubah lahan pasca tambang menjadi pusat produksi jagung yang dikelola dari hulu hingga hilir. Program ini sekaligus menjadi wujud nyata transformasi wilayah tambang menjadi kawasan produktif yang menguntungkan masyarakat.

 

Lahan milik MHU seluas 20 hektare yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini ditata sebagai kawasan pertanian terpadu. Di area tersebut disiapkan fasilitas penunjang seperti mesin pemipil jagung, pengering (dryer), hingga alat pencacah batang untuk pakan ternak dan pupuk organik. Konsep integrasi yang dibangun membuat seluruh proses produksi, pengolahan, dan persiapan distribusi berada dalam satu kawasan.

 

AKP Hari Supranoto menjelaskan bahwa program ini dirancang agar petani tidak lagi terbebani persoalan pasar maupun kualitas hasil panen. “Kita buat semuanya saling terhubung supaya petani merasa aman. Begitu panen, mereka sudah tahu ke mana mengirim dan berapa yang akan mereka terima,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

 

Untuk memastikan keberhasilan program ini, Polsek Loa Kulu menggandeng Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura sebagai penyedia bibit, pupuk, racun gulma, dan alsintan. Penyuluh pertanian lapangan (PPL) Kecamatan Loa Kulu juga ikut memberikan pendampingan teknis kepada para petani. AKP Hari Supranoto menegaskan bahwa kolaborasi ini penting karena para petani membutuhkan arahan yang tepat agar produksi dapat berlangsung optimal.

 

Program pertanian terpadu ini juga membawa perubahan besar pada mindset petani. Jika sebelumnya mereka enggan menanam jagung dalam skala besar karena takut harga jatuh, kini kekhawatiran itu hilang. Bulog hadir sebagai pembeli utama dengan harga yang kompetitif, mulai dari Rp5.500 per kilogram untuk jagung berkadar air 18–20%, dan Rp6.400 untuk kadar air maksimal 14%. Kepastian harga tersebut membuat petani semakin percaya diri mengembangkan lahan mereka.

 

Bahkan, beberapa petani mengaku terkejut dengan cepatnya proses pembayaran setelah mereka mengirim jagung ke Bulog. Dana langsung masuk ke rekening tanpa menunggu lama, memicu petani lain untuk ikut menanam. Hingga kini, luas lahan jagung di Loa Kulu sudah mencapai 40–50 hektare, tersebar di Jembayan, Jembayan Tengah, Jongkang, hingga kawasan lahan eks tambang MHU.

 

AKP Hari Supranoto memastikan pendampingan dari Polsek Loa Kulu tidak berhenti sampai panen saja, tetapi berlanjut hingga proses pengemasan dan pengiriman ke Bulog. Ia berharap keberhasilan ini menjadi model ketahanan pangan yang bisa direplikasi di wilayah lain dan menjadi jalan bagi petani Loa Kulu menuju kesejahteraan yang lebih baik.

 

(Aji R)

BACA JUGA