Onlineku.Info, Tarakan – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan terus mengembangkan pembinaan kemandirian berbasis pertanian melalui kegiatan penanaman bibit daun bawang di lahan Bukit SAE Lapastar pada Jumat (28/11). Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Kegiatan Kerja bersama jajaran, serta melibatkan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan peserta Program Magang Nasional.
Proses penanaman dimulai dari persiapan bedengan, pengaturan jarak tanam, hingga pemindahan bibit daun bawang ke lahan produksi. Seluruh kegiatan berlangsung tertib dengan monitoring dari Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Andhika Abrian, serta supervisi langsung dari Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Jupri.
Langkah ini merupakan implementasi 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan dan peningkatan keterampilan kerja warga binaan. Peserta Program Magang Nasional juga mendapatkan pengalaman lapangan terkait pembinaan kemandirian pemasyarakatan.
Kalapas Tarakan, Jupri, menegaskan bahwa kegiatan pertanian produktif ini bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi bagian dari agenda besar pembinaan berkelanjutan.
“Kegiatan penanaman ini memberikan kesempatan bagi WBP untuk mempelajari keterampilan pertanian modern. Kami ingin memastikan mereka memiliki bekal yang bermanfaat ketika kembali ke masyarakat,” ujar Jupri.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan program hortikultura ini menjadi fokus utama Lapas Tarakan.
“Hasil panen nanti tidak hanya untuk mendukung kebutuhan internal Lapas, tetapi juga dapat menjadi nilai ekonomi produktif bagi warga binaan. Kami berkomitmen menghadirkan pembinaan yang benar-benar berdampak,” jelasnya.
Bibit daun bawang yang telah ditanam akan dirawat secara intensif melalui penyiraman, pemupukan, dan pengendalian gulma. Hasil panen nantinya diharapkan dapat menambah premi bagi WBP serta meningkatkan PNBP bidang pembinaan.
Dengan pengembangan sektor pertanian yang berkelanjutan, Lapas Kelas IIA Tarakan terus memperkuat komitmennya menciptakan lingkungan pembinaan produktif, edukatif, dan berorientasi pada kemandirian. Program ini menjadi bukti nyata bahwa Lapas tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi juga ruang pemberdayaan dan peningkatan kompetensi bagi WBP.
(Aji R)
