Gandeng Solidaridad, Kukar Fokus Perkuat Sawit Berkelanjutan dan Pemberdayaan Petani

foto: Forum Group Discussion Disbun Kukar dan Solidaridad Indonesia

Onlineku.Info, Tenggarong – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara terus memperkuat pembangunan perkebunan berkelanjutan melalui kolaborasi dengan Solidaridad Indonesia sebagai upaya mendorong pengelolaan sawit yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan petani.

Kepala Dinas Perkebunan Kutai Kartanegara, Muhammad Taufik, mengatakan kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang telah terjalin antara Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Solidaridad pada Desember 2025 lalu.

Menurutnya, Solidaridad merupakan lembaga nirlaba sekaligus mitra pembangunan yang memiliki fokus pada isu lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat, termasuk mendukung pembangunan perkebunan berkelanjutan di daerah.

“Di dalam kesepahaman bersama itu salah satu poin pentingnya adalah bagaimana mendorong pembangunan perkebunan berkelanjutan, termasuk penguatan kelembagaan dan pemberdayaan UMKM, khususnya UMKM berbasis pertanian,” ujar Taufik saat kegiatan Focus Group Discussion (FGD), Kamis (25/6/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah program telah dijalankan bersama Solidaridad, mulai dari kegiatan sosialisasi hingga pelatihan Training of Trainers (TOT) bagi kelompok wanita tani yang sebelumnya dilaksanakan di Samarinda.

Selain itu, pendampingan juga telah dilakukan terhadap perkebunan sawit swadaya milik masyarakat. Di Kecamatan Kembang Janggut, misalnya, Solidaridad telah menjalin kerja sama dengan REA Kaltim untuk mendukung pemberdayaan dan penguatan kapasitas petani sawit rakyat.

“Kami ingin mendorong agar kebun-kebun swadaya masyarakat dapat berkembang dengan pengelolaan yang lebih baik dan berkelanjutan,” katanya.

Menurut Taufik, pembangunan perkebunan berkelanjutan tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan hidup semata, tetapi juga harus memperhatikan aspek ekonomi dan sosial masyarakat.

“Ada aspek ekonomi, aspek lingkungan, dan aspek sosial yang harus berjalan beriringan agar pembangunan perkebunan benar-benar memberikan manfaat yang berkelanjutan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan FGD yang digelar kali ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam pengendalian dampak perubahan iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca di sektor lahan dan perkebunan.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, perusahaan perkebunan, kelompok tani, kelompok tani peduli api, hingga Solidaridad sebagai mitra pembangunan dan narasumber dalam kegiatan tersebut.

Lebih lanjut, Dinas Perkebunan Kutai Kartanegara juga terus mendorong kebun sawit rakyat agar mampu memenuhi standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Sertifikasi tersebut kini menjadi salah satu syarat penting dalam pengelolaan perkebunan sawit berkelanjutan di Indonesia.

“Kami berharap Solidaridad dapat memberikan pendampingan kepada kebun-kebun masyarakat dalam proses memperoleh sertifikasi ISPO yang saat ini menjadi kewajiban bagi perkebunan rakyat,” ujarnya.

Sebagai salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Kalimantan Timur, potensi perkebunan sawit di Kutai Kartanegara tersebar hampir di seluruh kecamatan, mulai dari Marangkayu, Muara Badak, Kembang Janggut hingga Tabang.

Saat ini, Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki sekitar 18 pabrik kelapa sawit (PKS) yang memproduksi crude palm oil (CPO). Pemerintah daerah pun mulai mendorong pengembangan industri hilir agar nilai tambah komoditas sawit dapat dinikmati langsung oleh masyarakat dan daerah.

Taufik mengungkapkan, saat ini telah ada penjajakan dari calon investor asal China untuk pembangunan industri pengolahan minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO) di Kutai Kartanegara.

“Kami berharap nantinya tidak hanya menghasilkan CPO, tetapi juga mampu mengembangkan industri turunannya di daerah sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan semakin besar,” tutupnya.

(Jie)

BACA JUGA