Belian Namang, Warisan Para Leluhur yang Hidup dalam Irama Tarian Sakral

Onlineku.Info, Tenggarong – Tradisi Belian Namang yang masih lestari di Kedang Ipil, Kabupaten Kutai Kartanegara, bukan sekadar ritual penyucian atau penabalan seorang pemimpin adat. Lebih dari itu, Belian Namang memiliki makna mendalam dengan rangkaian tarian serta musik pengiring yang penuh simbol dan nilai spiritual.

Menurut Murad, tokoh adat Kedang Ipil sekaligus Ketua Lembaga Adat Kota Adat Lawa Sumbing Layang, Belian Namang memiliki fungsi berbeda dengan Belian Hantu.

“Kalau Belian Namang biasanya dipakai untuk penabalan, penyucian, atau pengangkatan pemimpin adat, termasuk pelantikan kepala desa secara adat. Sementara Belian Hantu lebih sering digunakan untuk mengobati orang sakit,” jelas Murad saat diwawancarai di serapo Belian. Jumat (19/9/2025).

Belian Hantu sendiri terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain Langkasoka, Kayangan, Sendiu, hingga Bawah Ayu, dengan tujuan utama untuk penyembuhan. Sedangkan Belian Namang dianggap lebih sakral karena digunakan pada momen-momen penting, terutama yang berhubungan dengan legitimasi kepemimpinan adat.

Dalam pelaksanaannya, Belian Namang juga selalu diiringi tarian sakral yang disebut Tandua Tarian Dewa. Tarian ini terbagi menjadi tiga jenis, yakni Mabun, Luahniung, dan Pendawa Lima.

“Tiga tarian ini wajib ditampilkan secara berurutan, biasanya dalam tiga hari berturut-turut hingga penutupan ritual,” tambah Murad.

Untuk musik pengiringnya, Belian Namang menggunakan alunan khas bernama Tamuian atau Ngayat, yang dipercaya mampu membuka jalan komunikasi antara dunia nyata dan alam gaib. Bagi masyarakat adat Kedang Ipil, musik dan tarian tersebut tidak sekadar hiburan, melainkan simbol spiritual yang memperkuat doa dan maksud dari jalannya Belian.

Dengan perpaduan antara fungsi ritual, jenis belian, serta keindahan tarian dan musik pengiring, tradisi Belian Namang hingga kini tetap menjadi warisan budaya yang dijaga turun-temurun di Kedang Ipil.
(Aji R)

BACA JUGA