
Onlineku.Info, Kukar – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) semakin serius mendorong penguatan ketahanan pangan desa dengan pendekatan berbasis kearifan lokal. Langkah ini diusung melalui program-program yang digarap Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, yang tak sekadar menargetkan peningkatan produksi pangan, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat desa.
Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pemkab Kukar dalam mewujudkan pembangunan desa yang berkelanjutan. Pendekatannya berfokus pada pengembangan potensi lokal, pemanfaatan sumber daya yang ada di masing-masing desa, serta mengurangi ketergantungan masyarakat pada bantuan instan.
Kepala DPMD Kukar, Arianto, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan pendampingan intensif di berbagai desa, agar program ketahanan pangan benar-benar berakar di tengah masyarakat.
“Kami tidak sekadar melihat program di atas kertas. Yang kami pantau adalah pelaksanaannya, dampaknya bagi warga, dan bagaimana masyarakat bisa merasakan manfaat langsung,” ujar Arianto saat ditemui di Tenggarong, baru-baru ini.
Menurut Arianto, pemanfaatan Dana Desa secara optimal menjadi indikator penting. Desa-desa yang mampu mengalokasikan anggaran secara kreatif untuk memperkuat ketahanan pangan — terutama dengan mengandalkan potensi lokal — diprioritaskan untuk mendapat pembinaan lebih lanjut.
“Desa yang bisa memanfaatkan kearifan lokal, seperti pertanian tradisional, pengembangan pangan alternatif, atau pemanfaatan tanaman lokal, itulah yang kami dorong,” tambahnya.
Saat ini, beberapa desa di Kukar sudah menunjukkan kemajuan pesat. Ada desa yang mengembangkan pertanian organik berbasis komunitas, budidaya ikan air tawar di pekarangan rumah, hingga kebun pangan keluarga yang melibatkan kelompok ibu-ibu.
Tidak hanya itu, pengembangan diversifikasi pangan juga menjadi perhatian. Misalnya, pengolahan bahan pangan lokal menjadi produk bernilai tambah, seperti tepung dari singkong, olahan ubi, atau makanan ringan berbahan dasar sagu.
“Dengan begini, pangan lokal tidak hanya dikonsumsi, tapi juga bisa memberi nilai ekonomi tambahan bagi warga,” jelas Arianto.
Upaya-upaya tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kesiapan desa mengikuti Festival Bangun Desa Indonesia 2025, di mana Kukar akan mewakili Kalimantan Timur. Namun, Arianto menegaskan bahwa target utama bukan hanya ajang festival.
“Festival itu hanya momentum. Yang lebih penting adalah membangun sistem ketahanan pangan desa yang bisa bertahan dalam jangka panjang,” katanya.
DPMD Kukar juga terus memperkuat sinergi lintas sektor, menggandeng kecamatan, pendamping desa, kelompok tani, PKK, serta berbagai elemen masyarakat.
“Kami ingin seluruh warga terlibat, mulai dari kepala desa, petani, ibu rumah tangga, hingga pemuda desa. Semua punya peran,” ucap Arianto.
Ia menegaskan bahwa pendekatan partisipatif yang mengedepankan kearifan lokal akan jauh lebih efektif ketimbang program-program top-down yang kerap kurang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi riil masyarakat.
Dengan model pembangunan yang berbasis kekuatan komunitas, DPMD Kukar berharap akan muncul desa-desa yang benar-benar tangguh, mandiri secara pangan, dan mampu menginspirasi daerah lain.
“Kami ingin membuktikan bahwa kekuatan pembangunan itu ada di masyarakat sendiri. Kalau mereka diberdayakan dengan tepat, hasilnya bisa luar biasa,” tutup Arianto.
Langkah strategis ini menunjukkan bahwa Pemkab Kukar tidak hanya fokus membangun infrastruktur desa, tetapi juga menaruh perhatian besar pada penguatan ketahanan pangan sebagai pondasi utama kemandirian desa.
(ADV/DISKOMINFO).

