Onlineku.Info, Tenggarong – Di balik kemeriahan Erau Adat Kutai 2026, terdapat sejumlah tradisi sakral yang masih dijaga hingga sekarang. Salah satunya adalah pantangan bagi Sultan Kutai Kartanegara untuk tidak menginjakkan kaki secara langsung ke tanah selama masa tertentu dalam rangkaian Erau.
Tradisi tersebut merupakan warisan leluhur terdahulu yang terus dipertahankan dalam pelaksanaan adat Kesultanan Kutai Kartanegara. Pantangan itu berkaitan dengan proses betuhing yang dijalani Sultan selama rangkaian sakral Erau.
Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Arifin menjelaskan, dirinya tidak diperbolehkan menginjak tanah selama masa betuhing. Ketentuan tersebut mulai berlaku sejak Pinang Ayu didirikan hingga direbahkan kembali.
“Kalau sudah betuhing, ada pantangannya. Salah satunya tidak boleh menginjak tanah,” jelas Sultan. Selasa (15/9/26).
Karena pantangan tersebut, ketika keluar dari kediamannya menuju keraton atau lokasi pelaksanaan prosesi, Sultan menggunakan kain kuning sebagai pijakan.
“Jadi dari rumah menuju istana itu menggunakan kain kuning. Selama Pinang Ayu berdiri sampai direbahkan, itu bagian dari pantangannya,” ujarnya.
Tradisi tersebut tidak sekadar menjadi tata cara dalam prosesi Erau, tetapi juga menjadi bentuk kepatuhan terhadap adat yang diwariskan oleh para leluhur terdahulu.
Menurut Sultan, ketentuan tersebut tetap dijalankan karena menjadi bagian dari rangkaian adat yang memiliki nilai sakral dalam pelaksanaan Erau.
Pantangan menginjak tanah selama betuhing juga memperlihatkan bagaimana tradisi leluhur Kesultanan Kutai Kartanegara masih dipertahankan di tengah perkembangan zaman.
Bagi masyarakat, tradisi tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari Erau yang menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan budaya, tetapi juga memiliki aturan dan tata cara adat yang harus dihormati.
Erau Adat Kutai 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20–28 September 2026 di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Berbagai persiapan untuk rangkaian prosesi adat dan sakral terus dilakukan menjelang pelaksanaan.
Tradisi betuhing dan pantangan Sultan untuk tidak menginjak tanah menjadi salah satu warisan leluhur yang hingga kini masih dijaga dalam rangkaian Erau Adat Kutai.