Digelar untuk Ketiga Kalinya, Festival Batu Bumbun Jadi Wadah Pelestarian Budaya dan UMKM

Plt Kadispar Kukar bersama Forkopimcam Muara Muntai membuka Festival Batu Bumbun (Jie/Onlineku.Info)

Onlineku.Info, Kutai Kartanegara – Festival Batu Bumbun kembali digelar di Desa Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Sabtu (29/8/2026). Memasuki tahun ketiga pelaksanaannya, festival ini tidak hanya menjadi ruang hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi wadah pelestarian budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui UMKM.

 

Pembukaan Festival Batu Bumbun dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Muara Muntai serta sejumlah pihak terkait. Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kukar, Awang Agus Dermawan.

 

Pembukaan festival semakin semarak dengan penampilan Tari Kolosal Batu Bumbun yang dibawakan oleh para pelajar SMA Negeri 1 Muara Muntai. Pertunjukan tersebut digarap oleh Sinduru Indonesia, yang menciptakan koreografi Tari Kolosal Batu Bumbun dengan mengangkat kisah dan nilai-nilai budaya bahari yang menjadi bagian dari sejarah Batu Bumbun.

 

Penampilan para pelajar tersebut menjadi salah satu suguhan utama dalam pembukaan festival dan mendapat sambutan meriah dari masyarakat yang hadir.

 

Plt Kepala Dinas Pariwisata Kukar, Awang Agus Dermawan, mengapresiasi pelaksanaan Festival Batu Bumbun yang dinilai berjalan lancar dengan dukungan cuaca yang cukup baik. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung sukses hingga penutupan.

 

“Alhamdulillah acaranya berjalan lancar, cuaca juga mendukung dan harapannya sukses sampai penutupan,” ujar Awang Agus Dermawan.

 

Menurutnya, pelaksanaan festival juga memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekonomi kreatif masyarakat, khususnya pelaku UMKM. Hal itu terlihat dari tingginya antusiasme pelaku usaha untuk ikut ambil bagian dalam festival.

 

“Kita harapkan ekonomi kreatif itu berkembang, terus UMKM juga maju. Saya dengar laporan dari panitia tadi, kalau tidak dibatasi mungkin sudah penuh lapangan ini. Itu menandakan antusias pencinta kuliner juga tinggi di Muara Muntai, artinya UMKM-nya juga maju di tiap tahunnya,” katanya.

 

Sementara itu, Kepala Desa Muara Muntai Ilir, Arifadin Nur, menjelaskan Festival Batu Bumbun telah memasuki tahun ketiga pelaksanaan. Festival tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah desa bersama masyarakat untuk mengangkat kembali cerita dan sejarah bahari yang berkembang di wilayah Muara Muntai.

 

“Ini pesta Batu Bumbun yang ketiga, tahun ketiga. Jadi tiap tahun kami laksanakan. Festival Batu Bumbun ini pertama-tama untuk mengangkat cerita tentang bentuk bumbun. Memang ada ceritanya zaman dulu yang tadi saya saksikan bersama, ada tarik kolosal dan sebagainya. Itu sesuai dengan cerita awal, yang mana Festival Batu Bumbun mengangkat cerita bahari yang ada di lokasi Muara Muntai,” jelas Arifadin.

 

Selain mengangkat kebudayaan, festival juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produk mereka. Panitia mencatat terdapat 46 UMKM yang berpartisipasi, terdiri dari 35 UMKM lokal dan 11 UMKM dari luar daerah.

 

Jumlah tersebut masih jauh dari total pelaku usaha yang berminat mengikuti kegiatan. Arifadin menyebut, panitia menerima lebih dari 70 calon peserta UMKM sehingga harus melakukan pembatasan karena keterbatasan kapasitas lokasi.

 

“Untuk UMKM ini memang kami utamakan UMKM lokal dulu. Tercatat 35 UMKM lokal dan 11 dari luar. Kami batasi karena kalau diterima semua, ada sekitar 70 lebih yang mau masuk. Makanya saya sampaikan dalam sambutan, kami memohon maaf kepada yang lain yang belum bisa terpenuhi karena kami punya kapasitas,” ungkapnya.

 

Tingginya minat tersebut, lanjut dia, menunjukkan Festival Batu Bumbun mulai menjadi salah satu wadah pergerakan ekonomi masyarakat di Muara Muntai.

 

Tidak hanya menghadirkan hiburan dan aktivitas ekonomi, Festival Batu Bumbun tahun ini juga dikemas dengan rangkaian ritual adat yang menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali tradisi masyarakat setempat.

 

Arifadin menjelaskan, sejak pelaksanaan tahun ketiga, pemerintah desa dan panitia berupaya mengangkat kembali sejumlah rangkaian adat yang berkaitan dengan sejarah dan budaya masyarakat Muara Muntai.

 

“Ritual itu memang seharusnya kita lakukan dulu. Dari Festival Batu Bumbun yang ketiga ini kami mulai menghidupkan kembali rangkaian-rangkaian itu, seperti belabuh dan tepung tawar bersama Sultan. Banyak kisah dari rangkaian itu yang mulai kita lupakan. Makanya Festival Batu Bumbun ini menjadi sarana untuk mengangkat kembali kisah-kisah kita di masa bahari,” tuturnya.

 

Konsep festival juga terus dikembangkan dari tahun ke tahun. Jika pada pelaksanaan pertama fokusnya mengangkat cerita Festival Batu Bumbun, pada tahun berikutnya panitia melakukan berbagai inovasi hingga pada pelaksanaan ketiga memadukan unsur budaya, adat, dan keagamaan.

 

“Yang pertama kami coba mengangkat cerita Festival Batu Bumbun. Kemudian yang kedua kami terus berinovasi. Festival Batu Bumbun yang ketiga ini kami coba padukan karena kebetulan ritual-ritual adat Kesultanan itu ada kesannya di Muara Muntai, sehingga kami coba hidupkan kembali,” katanya.

 

Selain rangkaian adat, Festival Batu Bumbun tahun ini juga dipadukan dengan kegiatan keagamaan berupa tabligh akbar yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

 

Arifadin berharap Festival Batu Bumbun dapat terus berkembang dan menjadi wadah untuk memperkenalkan Muara Muntai kepada masyarakat yang lebih luas. Ia juga berharap adanya keterlibatan lebih besar dari OPD terkait dalam penyelenggaraan festival pada tahun-tahun mendatang.

 

“Yang kami harapkan adalah peran serta dari OPD-OPD terkait. Dalam tiga kali kami mengadakan ini, kami berharap ke depan bisa berkolaborasi lebih baik lagi,” ujarnya.

 

Menurutnya, dukungan berbagai pihak sangat diperlukan agar Festival Batu Bumbun tidak hanya menjadi agenda hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan.

 

“Festival Batu Bumbun ini yang pertama adalah hiburan masyarakat, yang kedua meningkatkan ekonomi kerakyatan melalui UMKM. Bayangkan UMKM yang ada di Muara Muntai saja hampir 40, sementara yang ingin masuk lebih dari 70. Ini salah satu wadah pergerakan ekonomi kerakyatan,” jelasnya.

 

Ia menilai festival tersebut juga sejalan dengan upaya mendorong UMKM agar semakin berkembang dan naik kelas. Karena itu, keberlanjutan kegiatan dinilai penting agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas.

 

“Ini salah satu wadah juga untuk UMKM naik kelas. Makanya besar harapan kami dari pihak OPD terkait bisa berkomunikasi dan berkolaborasi dengan kami,” pungkasnya.

 

(Jie)

BACA JUGA